KORELASI REGULASI PEMERINTAH TERHADAP PENERAPAN  LAYANAN DAN PERLINDUNGAN PELANGGAN OLEH PENYEDIA JASA TELEKOMUNIKASI  

A. DASAR TERCIPTANYA REGULASI

Dunia bisnis telekomunikasi pada dasarnya ada di tengah – tengah masyarakat oleh karena tuntutan jaman dan kebutuhan yang semakin kompleks. Efektifitas dan kelancaran hubungan yang tidak terbatas pada ruang dan waktu menjadikan bisnis ini seperti jamur bak bertumbuhan di hutan hujan tropis. Banyak pihak menaruh modal besar untuk menumbuh kembangkan usaha yang menjadi trend dimaksud. Persaingan terhadap pengadaan pelayanan jasa telekomunikasi kepada publik menimbulkan problem yang akan bermunculan seiring dengan kemajuan era teknologi dan kebutuhan masyarakat akan penggunaan teknologi tersebut. Kekhawatiran akan kemajuan tumbuh kembangnya teknologi termasuk jaringan selular mendorong berbagai regulasi dibuat dan disahkan oleh pemerintah sebagai fungsi kontrol dan pembina atas persaingan yang akan muncul terhadap persaingan dan percepatan pembangunan fasilitas dan infrastruktur telekomunikasi.
Maka pemerintah memahami trend tersebut dengan tidak ketinggalan membuat peraturan untuk mendukung perkembangan aneka ragam bentuk penyaluran telekomunikasi terhadap masyarakat termasuk aturan main penyedia jasa telekomunikasi dimana perusahaan operator seluler didalamnya. Penerapan regulasi pemerintah pusat untuk mengatur dan mempedomani reformasi maupun liberalisasi telekomunikasi notabene adalah dalam rangka untuk peningkatan transparansi dalam persaingan industri. Karena kondisi yang tercipta sedemikian rupa akan membuka peluang masuknya pemain baru yang turut serta meramaikan persaingan, maka melalui kewenangannya, pemerintah menanggapi kondisi tersebut dengan mengeluarkan berbagai peraturan yang terus berkembang disesuaikan dengan jenis dan sifat cara serta sarana telekomunikasi yang terus mengalami perubahan menurut kemajuan teknologi.

B. PENERAPAN REGULASI OLEH OPERATOR SELULER
Selanjutnya penulis akan menguraikan salah satu regulasi yang bisa dikatakan sebagai unsur pokok penyediaan jasa telekomunikasi sebagai penataan dan pengaturan mendasar dalam penyelenggaraan telekomunikasi nasional yaitu sesuai dengan apa yang tertera dalam pasal 25 UU No. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi, dinyatakan di ayat (1) bahwa Setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi berhak untuk mendapatkan interkoneksi dan penyelenggara jaringan telekomunikasi lainnya. Dan dinyatakan di ayat (2) bahwa Setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi wajib menyediakan interkoneksi apabila diminta oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi lainnya. Atau dalam hal ini yang dimaksud dengan hubungan antar penyelenggara jaringan telekomunikasi satu dengan lainnya berkaitan dalam hal hak dan kewajiban diatur dalam ayat (3), yaitu pelaksanaan hak dan kewajiban diatur berdasarkan prinsip – prinsip sebagai berikut:
a. Pemanfaatan Sumber Daya Secara Efisien
Pembahasan yang menarik sehubungan dengan pokok masalah diatas adalah bagaimana sinergitas antar penyedia jasa telekomunikasi dalam keterbukaannya sesama penyedia jasa telekomunikasi lainnya (any to any conectivity) dengan saling membuka jaringannya. Permasalahan operasional mengenai dampak keterbukaan dimaksud tentunya ada pada biaya operasional. Dalam hal ini, maka antar industri telekomunikasi harus mempunyai nota kesepahaman untuk menemui titik temu secara transparan. Permasalahan lainnya adalah pada pemanfaatan menara – menara BTS (Base Transciever Station) yang berfungsi sebagai mediator antar sesama pengguna ponsel yang keberadaannya sangat banyak dikarenakan banyaknya operator seluler yang saling bersaing mendapatkan pelanggannya, namun dengan banyaknya menara operator seluler yang terasa individualis tersebut menimbulkan kekacauan tata kota dan dampak lingkungan negatif lainnya yang tidak terbatas pada industri opertor seluler saja (interkoneksi) namun juga pengaruhnya pada koneksi secara global karena sebenarnya koneksi dimksud sama – sama berbasis pada satelit pemancar, jadi seharusnya permaslahan seperti disebutkan diatas bisa diminimalisir dengan mengurangi kuantitas menara untuk digunakan bersama dengan perhitungan dan kerjasama antar pengusaha penyedia jasa telekomunikasi mengcu pada keserasian sistem dan perangkat telekomunikasi yang digunakan.
Sumber daya lainnya tentunya adalah manusia sebagai otak penyedia serta pemakai telekomunikasi. Tolok ukur yang digunakan adalah semakin tinggi kualitas daya serap teknologi pemakaian peralatan komunikasi maka akan semakin efektif dan efisien praktek operasional hubungan di kehidupan nyatanya. Sehingga akan mendorong peningkatan keuntungan / benefit sebagai target tercapainya tujuan industri ini.
b. Keserasian sistem dan Perangkat Telekomunikasi
Secara umum sistem telekomunikasi adalah penyampaian atau pertukaran informasi antara satu titik dengan titik yang lain dengan jarak jauh menggunakan sarana media, atau perangkat elektrik. Dengan memperhatikan apa yang dimaksudkan tersebut maka kesesuaian antara sistem dan perangkat telekomunikasi tertuju pada apa dan bagaimana media yang digunakan sebagai penghubung input maupun output informasi yang menjadi vital agar tidak salah dalam menentukan kemana arah grand strategi perusahaan dari segi teknologi yang berdaya guna dan berhasil guna. Dengan dasar seperti itulah beberapa strategi telah diluncurkan oleh provider XL di tahun ini salah satunya dengan terobosan barunya menandatangani kontrak kerjasama bersama Dimension Data dengan angka yang tidak tanggung – tanggung sebagai kontrak kerjasama yaitu senilai USD 4,7 miliar, namun dengan angka fantastis itu berorientasi untuk menerapkan solusi standar signaling berbasis IP transport serta Signaling Standart SIP. Teknologi itu bertujuan sebagai kepastian penyampaian sinyal end to end sehingga akan mengurangi biaya CAPEX (capital expenditure) atau modal perusahaan dan OPEX (operation expenditure) atau pengeluaran operasional.
c. Peningkatan Mutu Pelayanan
Makna pasal 25 UU No. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi selanjutnya adalah bagaimana peningkatan mutu pelyanan kepada pelanggan yang baik oleh provider seluler tersebut. Alur komunikasi yang baik berorientasi pada bagaimana informasi yang disampaikan dengan sarana komunikasi yang disediakan tersebut sampai pada penerimanya yang secara konvensional misalnya melalui telefon atau SMS (Short Message Service) dan sarana konvensional lainnya seperti MMS (Multimedia Message Service) maka kuatnya signal atau jaringan ke pelosok negeri menjadi hal yang sangat vital. Namun jika disesuaikan dengan kemajuan jaman dari tahun ke tahun maka disamping memperhatikan pelayanan pokok tersebut harus disesuaikan pula dengan kebutuhan pelanggan masa kini yaitu informasi yang sangat cepat serta efektif menjangkau ke seluruh penjuru dunia dalam waktu sangat singkat yaitu melalui dunia maya / internet. Dan XL sekali lagi telah memikirkannya yang kemudian diaplikasikan melalui terobosan layanan data yang disediakan dalam beragam konten sebagai contoh adalah dengan adanya XL baca yang telah menjalin kerjasama dengan para penerbit buku yang dikemas dalam bentuk digital visual terdiri atas beragam isi yang menarik memuat berbagai informasi yang diperlukan didalamnya termasuk cara yang efektif untuk mencitrakan operator XL dengan berbagai keunggulannya ini dalam pandangan masyarakat luas. Selain itu terdapat konten – konten menarik lainnya seperti XL Block Call, SMS Assistant, Phonebook backup, GoKlik Free Portal, serta koten – konten bermanfaat lainnya sebagai wujud pelayanan perusahaan operator di era masa kini.
d. Persaingan Sehat yang Tidak Saling Merugikan
Beberapa operator seluler terus saja bermunculan dengan keunggulan dan inovasinya masing – masing tiap tahunnya. Apa yang menyebabkan maraknya industri penyedia jasa tersebut semakin gencar untuk menggaet pelanggan atau untuk memonopoli persaingan pangsa pasar dengan berbagai terobosan menuju pada inovasi berkomunikasi secara tepat, murah, dan mudah. Alasannya tentu saja tertuju pada pelanggan dan pengguna produk provider, karena bukan mustahil ketika semakin kecil angka konsumen produk tersebut dan trend menurun di tiap tahunnya akan mengantarkan suatu industri seluler semakin cepat gulung tikar. Persaingan operator dalam menarik pelanggan sebanyak mungkin tertuju pada perang tarif antar sesama kompetitor. Berdasarkan Pasal 37 Peraturan Pemerintah (PP) No.52 Tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi yaitu berbunyi sebgai berikut:
– (1) Besarnya tarif ditetapkan berdasarkan formula
– (2) Penetapan formula perhitungan tarif sebgaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan biaya.
– (3) Ketentuan mengenai formula tarif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.
Pengaturan tarif telekomunikasi ditujukan pada formula perhitungan tarif, bukan penetuan berapa besaran tarif maksimum atau minimum dan promosi jasa telekomunikasi. Karena jika fokus perhatian adalah besaran tarif maka tentunya untuk sebuah regulasi yang notabene merupakan aturan akan menjadi tidak efektif sebagai dasar sebab ukuran mahal atau murah itu relatif setiap tahunnya berdasarkan pada nilai mata uang negara. Jika perhatiannya tertuju pada tarif murah maupun promosi maka tidak menjadi masalah utama, karena perushaan penyedia jasa telekomunikasi sebanyak – banyaknya menerapkan tarif murah hingga promosi yang gencar akan tarif tersebut akan habis juga jika sudah mencapai pada titik keseimbangan antara laba yang diperoleh dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan, maka tarif minimum dimaksud bukan hal yang menjadi pokok permasalahan.
Dengan memperhatikan satu pasal saja yang tersebut diatas perihal tata tertib persaingan dalam berusaha untuk perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, PT XL Axita telah memberikan contoh riil bagaimana sebuah aturan dilaksanakan atas dasar pemikiran legalitas serta pelayanan terbaik terhadap penggunannya untuk meningkatkan angka kepuasan pelanggan. Serta aturan dimaksud diharapkan tidak hanya menjadi gertakan demi ketertiban persaingan usaha namun hakekatnya adalah bagaimana keempat prinsip yang telah disebutkan diatas berifat mengikat dan diterapkan oleh setiap industri sebagai penyedia jasa telekomunikasi lainnya.

C. PERLINDUNGAN TERHADAP PENGGUNA JASA TELEKOMUNIKASI DARI ANCAMAN TINDAK KRIMINALISME
Dalam perkara lain penerapan regulasi yang tertera dalam perundang – undangan maupun dalam peraturan menteri semestinya tidak hanya mengatur subyek penyedia layanan telekomunikasi saja namun juga bagaimana subyek tersebut melindungi pengguna produk yang dihadirkan atau masayarakatnya sendiri. Berikutnya akan dipaparkan beberapa fakta yang terjadi dalam lingkup permainan praktek kriminal perihal layanan konten telekomunikasi, SMS premium, termasuk penarikan tarif ilegal berupa promosi, nada sambung pribadi, bonus, kuis, dan penawaran – penawaran lainnya yang merugikan konsumen pengguna jasa telekomunikasi antara lain :
1. Penipuan SMS salah tujuan, bonus atau hadiah fiktif
Penipuan model ini sudah sangat klasik digunakan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan operator seluler, karena pelanggan hanya dikirim dengan pesan elektronik seperti yang dimaksud diatas. Penipuan model ini pelaku mengirimkan menggunakan nomor seluler biasa. Keuntungan pelaku dengan model yang dipakai seperti ini adalah sangat murah dalam operasional karena hanya seperti mengirim SMS premium kepada pengguna lain yang sama operator selulernya.
– Pesan dikirim berupa iming – iming bonus atau hadiah, yang seolah – olah resmi dari operator seluler tertentu, contoh pesan tersebut “Slmt! No. Anda mendapat hadiah 100 jt dari PT XL AXIATA diundi td mlm di Trans Tv pkl 23.30 Wib, hub kantor pusat 08187446788 a.n. Ir H Joko Suswanto pengirim +818”, namun SMS tersebut dikirim dengan nomor pengirim 08190423XXXX dan pengirim hanya mengacak nomor pengguna jasa operator seluler lainnya.
– SMS salah tujuan, Modus ini sudah banyak dan sering diterima oleh nomor – nomor pelanggan, karena berisikan seolah – olah pesan tersebut dikirim dari orang yang merupakan keluarga, saudara atau kerabat dekat kita, contohnya “Kirimkan Mama pulsa sekarang karena Sedang ada urusan di Kantor Polisi”.
Penipuan seperti dimaksudkan diatas faktanya sudah sangat jarang dipermasalahkan oleh masyarakat pengguna jasa operator seluler dewasa ini, namun meskipun kecil kemungkinan menimbulkan korban, pelaku dengan modus seperti itu masih terus saja gencar untuk mengirimkannya ke seluruh pelosok negeri mengharap terdapat pelanggan yang masih percaya dengan omong kosong dimaksud. Isi pesan tidak hanya mengacu pada hadiah atau bonus semata namun promosi jual beli, bonus, dan lainnya yang intinya membujuk “target” agar mengirim atau menyerahkan sesuatu barang bisa berupa sejumlah uang tunai, pulsa atau barang berharga lainnya.
2. Layanan PopScreen
Yaitu yang terjadi ketika membeli kartu atau nomor seluler baru, maka secara otomatis PopScreen ini aktif seakan pengguna dipaksa untuk berlangganan isi dari PopScreen dimaksud. Namun langkah antisipasi agar pelanggan tidak merasa terpaksa untuk berlangganan adalah dengan pada kesempatan pertama mengaktifkan nomor tersebut segera non-aktifkan PopScreen melalui menu kartu.
3. Layanan konten premium dan mobile
Modus ini adalah yang paling banyak dipersoalkan dan memakan banyak korban karena bermoduskan layanan data seolah – olah resmi serta mempunyai ijin yang sah dari operator seluler yang bersangkutan, produk dari CP (content provider) illegal tersebut “dimainkan” dengan cara mengirimkan layanan konten yang tanpa bayar atau gratis pada mulanya kepada pelanggan seluler seperti wallpaper, ringtone, dan sebagainya. Pelanggan akan menyatakan berlangganan dengan cara melakukan registrasi (REG) produk tersebut namun kemudian selanjutnya dikenakan biaya langanan dan seterusnya sampai pulsa pelanggan akan otomatis berkurang, dan parahnya lagi tidak dicantumkan bagaimana untuk berhenti berlangganan (UNREG) atau bahkan sudah tidak bisa dihentikan, dan dengan kejadian dimaksud jalan keluar yang sering diambil pengguna ponsel adalah terpaksa mengganti kartunya. Sebagai usaha pencegahan terjadinya kerugian materiil yang berkelanjutan, maka sebelum berlangganan suatu konten premium, alangkah baiknya untuk mempelajari serta mencermati seberapa besar konten tersebut dalam pemenuhan kebutuhan kita, dan yang paling penting adalah bagaimana cara mengubah konten dan berhenti setelah menyatakan diri masuk dan berlangganan.
4. Mengobral nomor HP di website atau jejaring sosial
Suatu kecerobohan yang bisa terjadi sebagai awal mula atau yang memicu terjadinya kejahatan penipuan atau pencurian pulsa dalam dunia seluler, karena siapa saja yang memperlihatkan nomor HP-nya dalam suatu website atau jejaring sosial maka kemungkinan ada jutaan orang yang tidak dikenal sekalipun akan melihatnya. Sehingga hal dimikian yang memberikan peluang bagi pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengirimkan SMS atau telepon nyasar atau untuk memberikan iming – iming hadiah, bonus, dan sebagainya.
Memperhatikan kondisi yang dalam jangka waktu kedepan semakin memperihatinkan ini perusahaan operator seluler harus lebih selektif kembali untuk mengawasi rekanan penyedia layanan jasa yang bekerja sama dengan operator selulernya untuk menerapkan aturan atau ketentuan teknis mengenai bagaimana layanan kontennya bisa didapatkan atau sampai pada tahap berlangganan sehingga pelanggan terlindungi dari berbagai tindak kriminal akibat permainan yang dimaksud. Aturan teknis tersebut juga harus diinformasikan, dikonsultasikan, dan disosialisasikan kepada perusahaan operator tempat konten tersebut akan ditawarkan. Sehingga langkah ini dapat meminimalisir pihak lain yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan berbagai tindakan yang akhirnya merugikan pelanggan serta akan berdampak pada citra buruk perusahaan operator seluler sebagai penyedia jasa telekomunikasi.
Langkah atas pemecahan lainnya jika perbuatan tersebut merupakan tindak kriminal yang sebagian besar berupa penipuan dengan modus memenangkan sebuah undian yang dikirim seolah – olah dari operator seluler resmi yang kemudian mempengaruhi pelanggan untuk mengirimkan atau menyebabkan pelanggan kemudian menyerahkan uang atau barang secara langsung atau tidak langsung dan menyebabkan adanya kerugian materiil, maka peran aktif dari operator seluler adalah merespon dengan menyediakan layanan pengaduan khusus dengan maksud menindaklanjuti keluhan pelanggannya. Fungsi dari layanan pengaduan tersebut mengutamakan langkah nyata perusahaan dalam usaha melindungi konsumennya yang terlanjur terkena dampak tindak penipuan yang mengatasnamakan operator seluler dengan cara layanan SMS yang sangat sederhana dengan mengetik kode – kode yang telah ditentukan sebagai layanan pengaduan, contoh: LAPOR_nomor pengirim_keluhan. Dengan adanya laporan dari pelanggan demikian tersebut menjadi langkah operator untuk diteruskan ke pihak berwajib untuk diambil langkah hukum selanjutnya.

D. PERAN XL DAN PEMERINTAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN
Dalam setiap permasalahan yang terus berkembang seiring berjalannya waktu PT XL Axiata, Tbk terbukti berkomitmen tinggi untuk melindungi masyarakat sebagai pengguna maupun pelanggan dalam perkara kriminal berupa penipuan sampai pencurian pulsa yang banyak menimbulkan kerugian materiil di kalangan pengguna maupun pelanggannya. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Febriati Nadira (Head Of Corporate Communication) PT XL Axiata, Tbk di Surabaya, menurutnya bahwa Operator XL telah memiliki sistem sekuritas berlapis sehingga untuk kebocoran nomor pelanggan kepada pihak – pihak yang tidak berkepentingan termasuk CP (Content Provider) sekalipun kemungkinan kecil didapatkan nomor – nomor tersebut, terkait beragam tindak kriminal yang sedang berkembang, XL sudah mengantisipasinya sejak setahun yang lalu yaitu pelanggan dapat mengetahui bahwa nomornya terdaftar dalam layanan apa yaitu dengan menekan tombol *123*572# sehingga pelanggan tahu bagaimana layanan tersebut terdaftar pada XL secara resmi sehingga pelanggan tahu bagaimana cara untuk berhenti jika sudah tidak menginginkannya lagi. Dalam terobosan ini XL lah yang menjadi cikal bakal operator seluler lainnya untuk meredam aksi tipu muslihat terhadap kelakuan pihak – pihak tidak bertanggung jawab menurut Nadira.
Di sisi lain pemerintah melalui Kemenkominfo telah melakukan antisipasi dengan cara menutup atau blokir terhadap layanan pada Content Provider (CP) tertentu yang dianggap menawarkan transaksi “nakal”, namun tidak dapat dipungkiri bahwa langkah pemerintah tersebut belum maksimal kaena jika langkah menutup tersebut dilakukan akan serupa dengan langkah menutup situs dewasa atau blokir terhadap video atau gambar berbau porno dalam dunia maya, rasanya dampak usaha tersebut tidak mengena pada masyarakat, karena faktanya pengguna jasa telekomunikasi masih sering mendapatkan layanan “nakal” tersebut semakin gencar mengirimkan pesan – pesan agar pengguna telekomunikasi meregistrasi nomornya.
Sehubungan dengan pembahasan tersebut diatas maka diperlukan sinergitas antara pemerintah selaku pembuat regulasi dan operator seluler sebagai pelaksana regulasi agar praktek telekomunikasi nusantara di era digital yang semakin menuju ke arah modern seperti ini terjalin baik untuk tujuan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain memandang bahwa trend teknologi yang semakin lama semakin maju didasarkan pada kebutuhan khalayak ramai yang banyak disandarkan pada berita atau informasi yang tanpa batas, maka industri penyedia jasa telekomunikasi yang dalam hal ini industri seluler perlu memikirkannya dengan memunculkan berbagai terobosan baru tanpa mengesampingkan bagaimana teknologi tersebut aman digunakan dan yang terpenting tidak merugikan masyarakat sebagai konsumennya. Tersaji

# Tulisan diikutsertakan dalam XL Award 2011

~ by aliansitheband on December 8, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: