Flash of Genius

flash-of-genius-2008

Universal Pictures and Spyglass Entertainment

Sebuah karya cipta yang diciptakan dengan susah payah dan diklaim sebagai milik orang lain memang merupakan sebuah kenyataan pahit oleh pencipta. Sebuah perusahaan mobil besar ternama bernama Ford Motor Company pernah melakukan hal itu seperti yang digambarkan oleh film ini. Di sisi lain, seorang ilmuan Robert William Kearns yang menciptakan mekanisme penemuan baru dari aplikasi dasar yaitu berupa kipas kaca mobil yang di desain untuk bergerak sesuai dengan tingkat derasnya hujan, dengan kecepatan dan waktu berbeda, “Kipas Kaca  Intermitten” menerima hasil yang dikerjakannya dalam konflik dan hidup yang hampir hancur. Konflik yang berlanjut, merambat bahkan sampai pada kehidupan pribadi dan keluarganya.

Ini berawal saat pengenalan produk baru tersebut pada Ford, yang kemudian diuji cobakan oleh perusahaan yang membuat jajaran pejabat terkesan. Ford adalah perusahaan besar dengan organisasi dan manajemen bertingkat yang modern. Sehingga kontrak kerjasama yang disepakati bersama Kearns pun bisa dengan mudah dimanipulasi. Apalagi Kearns hanya bekerja sendiri. Seorang yang tak mengenal hak paten sebuah karya. Kronologi ini berlanjut sampai tuntutan persidangan yang tak kunjung usai, hampir memakan waktu sampai 20 tahun. Namun bagi Kearns hak cipta harus berada pada orang yang menciptakannya dengan segala ide dan usaha yang dituangkan. Selama itu pula ia menghabiskan waktu untuk sebuah pengakuan yang tak terbayarkan dengan materi. Sampai pada akhirnya ia mendapatkan pengakuan itu berkat dukungan keluarga dan orang terdekatnya walaupun imbalan kemenangan persidangan lebih kecil jumlahnya dibanding dengan tawaran perusahaan Ford untuk menutup kasus itu. Namun kebanggan karya sendiri memang tak tergantikan oleh materi. Sejatinya nilai ketekunan kerja menjadi roh atas film ini.

Bendera Indonesia wohooo..oooiiSama halnya pada kasus sekarang yang membuat hangat kembali hubungan Negara kita dengan negeri jiran Malaysia, atas klaim beberapa budaya, dan wilayah teritorial. Mereka mengaku memiliki harta karun kita sebagai miliknya. Sehingga tak khayal menimbulkan reaksi keras dari masyarakat nasionalis Indonesia. Yang jadi pertannyaan ialah apakah mereka tak tahu atau tak mau tahu asal usul sebuah karya. Sehingga membuat jiplakan yang hampir dan bahkan persis. Sebuah pernyataan menggelitik dilontarkan seorang presenter salah satu TV swasta Nasional Indonesia yang mendasari pemikirannya bahwa Malaysia melakukan demikian karena slogan pariwisata mereka ialah “Truly Asia”, sehingga budayannya juga hasil kombinasi unsur – unsur seni budaya Negara – Negara Asia. Mungkin sekarang baru naasnya Negara kita saja (maka hati dengan Negara – Negara lain, jaga milikmu sendiri). Tidak sepantasnyalah kita beradu argumen, tunjukkan saja fakta – fakta dan narasumber yang ada, maka kebenaran akan jelas terlihat.

Apa tidak malu dengan anak cucu nanti, mereka bangga atas budaya hasil karya bangsa lain. Kasihan mereka mewarisi konflik yang fluktuatif dan berkelanjutan. Kita yakin bahwa kebenaran tak akan berpihak pada oknum yang salah. Aliansi pun berharap demikian, semoga tak pernah terjadi karya cipta lagu Aliansi diklaim oleh musisi atau pihak lain. Seperti kejadian beberapa waktu lalu itu – tu… . Yang sekarang ternyata lagunya nggak booming di pasaran. Kasihan mereka yang dulu berseteru sampai balas somasi segala. . . ckckckckck.. .

Tersaji

BACK TO ALIANSI BAND’S HOME PAGE >>>>

~ by aliansitheband on September 2, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: